Berusaha Menerima

Trust issue. Commitment issue.
27 tahun, masih single, pacaran terakhir 4 tahun yang lalu, kalaupun pernah pacaran, gak pernah lebih dari 6 bulan.
Apalagi perempuan, apalagi tinggal di Indonesia, keadaan seperti itu mayoritas akan menganggap ada yang salah, kok umur segini belum ‘laku’.
“Terlalu pilih-pilih sih kamu.”
“Kebanyakan kriteria yang mengada-ngada kamu tuh.”
“Terlalu asik sama duniamu sendiri ya, hati-hati kebablasan.”
Kalau sudah seperti ini, ternyata sikap cuek saya menjadi suatu keuntungan, tinggal dijawab dengan,
“ya iyalah pilih-pilih, kan untuk seumur hidup.”
“Memangnya tau kriteriaku apa aja?”
“Lebih baik nikah cepet atau nikah lama?”
Seringkali kalau sudah saya jawab dengan pertanyaan retorika terakhir itu, lawan bicara akan tertawa kecil dan terdiam, bingung untuk menimpali kembali.

Hanya saja, cuek bukan berarti berhenti memikirkan secara absolut. Cuek hanya membantu untuk menimpali komentar-komentar seperti contoh di atas, agar tidak mempengaruhi bagaimana mood saya hari itu (jangan sampai setelah ditanya seperti itu mood saya seharian jadi jelek). Belum lagi saya juga suka overanalyzing, terkadang terlintas lah dalam benak saya, kalimat-kalimat yang mempertanyakan ‘harga’ saya, kok sampai sekarang belum ‘laku’. Menyadarkan diri bahwa pikiran semacam itu adalah ‘racun’, yang sama sekali tidak akan memberikan efek positif dalam keseharian hidup, merupakan tantangan yang tidak ada cara instan untuk menghindari dan menghadapinya.

Berdasarkan pengalaman seperti itu, saya menyadari bagaimana pentingnya untuk menyaring terlebih dahulu komentar atau pertanyaan apapun ke orang lain. Sesuatu yang kita anggap hanya sekedar basa basi atau remeh temeh, belum tentu diterima seperti itu oleh mereka. Banyak pilihan selain komentar fisik atau status pacar/kawin, kita bisa menanyakan kabar keluarga, pekerjaan, kesehatan atau mungkin “bagaimana perasaanmu saat ini?”, walaupun yang terakhir ini agak sulit untuk ditanyakan ke orang yang tidak terlalu akrab sih ya

Semoga dengan mewajibkan diri saya sendiri untuk lebih hati-hati dengan apa komentar dan pertanyaan yang saya lontarkan ke orang lain, saya akan bisa lebih legowo ketika menerima komentar dan pertanyaan klise sejuta umat. 

Advertisements

Regret

one way or the other, I began to realize how I haven’t forgive myself completely on not taking my ex-boyfriend seriously (the most endearing guy I’ve got to know, yeah the one before my last good-for-nothing boyfriend).  My 20 years old-self was so distracted by the appeal of latino culture and city that I found it hard to be committed to this one guy from my hometown.. and you know, to think about it, after broken up with him, my world began collapsing, I became this ‘zombie’ who not really sure what to do with her life that she only cares about enjoying the present and made her forget with her obligation or duty as a daughter.

It’s been 7 years, here I am still trying to make peace with myself , letting go past mistake and in bed with regret every single night.

 

they’d say I’m picky, that I have too much requirement on how my life partner should be.

it’s for life though, then is it so wrong of me to take my time carefully?

I’ve known since quite early, marriage that started with a crumbling foundation eventually would hurt you, your children and your family.

So yeah, I am picky, picky for the well-being, not only me, but for a lot of people close to me.

Menanam

Perhentian demi perhentian,
kuhampiri.
Menelaah sejenak
segalanya yang dapat kupetik.
Namun tidak pernahkah
terlintas di benakku
untuk menyempatkan , menanam?
Menanam dan menyirami
bibit-bibit yang dapat
meninggalkan jejak .
Selalu memetik ,
tak pernah menanam.
Hendaknya itu yang harus kuhindari.

Ada yang Salah

Ketika mimpi lebih indah
dari realita.
Mungkin ada yang salah,
dengan caramu menyulam
benang-benang kehidupan.
Tetapi pernah salah ,
menjadikanmu tahu.
Ketika kamu tahu , kamu pun
belajar. Belajar untuk tidak
mengulangi kesalahan yang sama.
Benang-benang itu bisa jadi
sekarang semerawut.
Bukan berarti kelak tidak bisa menjadi
suatu rajutan indah yang layak
kamu banggakan.

Time

Time slips away,
it doesn’t care
whether you are prepared
or not.
Time goes in an instant,
it doesn’t give a damn
if your heart was intact
or not.
Time is a devil,
but you can’t treat it as one.
You have to tread it
gently,then you
might understand better
how to cheat time.

a good omen

infatuation,
longing to extremely care
about other human being
That special being who could fill your mind space
the most.
imagination,
growing furiously.
It should be a good omen
and not a curse.